Membebaskan Diri dari Obsesi Menikah

Guys,,, Gw nemuin ini di salah satu artikel,,,,

Cerita ini bermanfaat banget buat para cewe2 yg selama ini terbelenggu oleh kecemasan akan obsesi menikah, salah satunya adalah gw sendiri hehehe….

Dan ga munafik, hal ini udah mendarah daging dalam pola pikir kaum hawa, mau ga mau qta akan terbawa oleh culture yg membuat qta jadi ga  punya pilihan lain,,,,

Okay deh,,,, baca aja dulu ceritanya & give ur comment if u want,,,

"Setelah menyelesaikan kuliah S2 nya di Australia, Becky (29)

memutuskan untuk bekerja di Indonesia dan melanjutkan salah satu

"tujuan hidupnya" yaitu mencari suami. Namun pencariannya ternyata tidak

mudah, akhirnya ia menerima cinta teman sekantornya meski sebenarnya tidak

ada kecocokan di antara mereka. Tidak mengherankan kalau hubungan mereka

dipenuhi pertengkaran, tapi Becky tetap bertahan sambil berharap

kekasihnya itu segera melamar. Sang kekasih akhirnya melamar, tapi bukan ke

Becky,  melainkan wanita lain yang selama ini juga dikencaninya.

Mungkin kita akan bertanya-tanya, mengapa seorang wanita

berpendidikan tinggi seperti Becky melakukan hal bodoh dengan

menghabiskan waktu dengan seseorang yang salah. Masih banyak Becky lain di sekitar

kita, meski dunia semakin canggih, tetap saja menikah masih menjadi tujuan

hidup banyak perempuan.  Sebenarnya apa yang menjadi motivasi orang-orang

yang terobsesi untuk menikah ? yuk, simak uraian berikut :

1. Sindrom "Butuh Pria"

Banyak wanita berusia pertengahan dua puluhan yang merasa

Hubungan dengan pacarnya tidak seperti yang didambakan. Tapi banyak dari

Mereka memutuskan tetap menikah dengan pasangannya karena merasa tidak bisa

Hidup tanpa pria. Akibatnya terjadi semacam shock di awal pernikahan.

Menurut  Mary Jo Fay, konsultan di situs helpfromsurvivor.com, jika Anda

Memiliki sindrom "butuh pria", ingatlah bahwa orangtua Anda telah mengurus

Anda dengan baik, berpikirlah dua kali karena berada di bawah "asuhan"

Pasangan yang sebenarnya tidak cocok hanya akan membawa Anda dalam hubungan yang tidak sehat.

2. Target hidup

Biasanya perempuan selalu menetapkan target pencapaian berdasarkan

umur, dan dibuat sangat spesifik. Misalnya menikah di usia 23, punya

anak paling lambat 25 tahun.  Menurut penelitian yang dilakukan oleh

beberapa psikolog, sebenarnya perempuan, sama halnya dengan pria juga takut

untuk berkomitmen, tetapi "target-target" tadi menekan mereka.   Semakin

dewasa dan makin luasnya wawasan, biasanya mereka akan melupakan target

tadi. Bukankah lebih baik menunda pernikahan daripada terperangkap dengan

orang yang salah ?

3. Tik Tok

Jam biologis masih menjadi salah satu faktor mengapa banyak

Perempuan muda memutuskan cepat menikah. Ketika seorang wanita menjalin

Hubungan dengan seorang pria, yang mereka inginkan adalah sebuah hubungan yang

serius, dalam arti dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Terlebih jika

usia sudah masuk kepala tiga, bayangan menggendong bayi sudah menari-nari

di kepala.

4. Lingkungan dan Keluarga

Hidup dalam masyarakat  yang ikatan kekeluargaannya masih kuat

seperti di Indonesia tidak selalu enak. Salah satunya adalah tuntutan

dan desakan dari keluarga besar jika ada salah satu anggota keluarga yang

belum menikah. Ada sebagian keluarga yang menggangap bercerai masih lebih

baik "ketimbang" tidak menikah sama sekali. Usia 30 tahun adalah angka

keramat, jika sampai usia tersebut perempuan belum menikah dan tidak ada

tanda-tanda menjalin hubungan serius, orang akan berpikir apakah ada yang salah.

5. Uang

Desakan ekonomi ternyata menjadi salah satu alasan sebagian

Perempuan untuk menikah. Memiliki suami kaya raya, hidup enak tanpa perlu

Bekerja keras masih menjadi impian. Banyak pula yang akhirnya bercerai ketika

Usia perkawinan mereka belum berjalan 5 tahun. Pati (35)seorang ibu satu

Anak dan sudah bercerai di usia 29 tahun, membagi pengalamannya : "meski

Mantan suami saya berasal dari keluarga kaya, tetapi sejak tahun lalu ia

Berhenti memberi tunjangan pada anak kami. Sekarang saya melanjutkan kuliah

Dan bekerja keras membesarkan anak saya, kelak ketika ia akan menikah

saya akan memastikan ia menikah karena cinta, bukan uang".

Membuat deadline kapan menikah

Do’s

Realistis

Membuat deadline kapan kita akan menikah sah-sah saja,

tergantung apa motivasi yang melatar belakanginya. Dengan adanya deadline kita akan bekerja keras untuk mencapai tujuan, asalkan bukan menikah hanya

untuk melengkapi tujuan

Tahu apa yang dicari

Tanyalah pada diri sendiri ; bagaimana kita ingin menjalani

hidup ? dengan siapa ? di mana ? setelah semua pertanyaan itu terjawab, siapa

tahu Anda akan sadar kalau selama ini hanya membuang waktu karena

berhubungan dengan orang yang salah.

Hargai target pasangan

Jika sekarang Anda sudah menemukan Mr.Right tetapi ia belum ingin

menikah, bersabarlah. Kita tentu tahu kalau pria biasanya takut

berkomitmen, bukan berarti si dia tak ingin serius, bisa jadi itu

karena ia sedang menikmati masa-masa berpacaran. Kebanyakan wanita merasa

dikejar deadline dan takut tidak jadi menikah dengan pasangannya, justru yang

sebenarnya adalah jika kita terlalu menekan bisa-bisa si dia kabur

ketakutan. Pernikahan bisa terjadi jika dua belah pihak sudah siap bukan ?

DON’T…

Menikah menjadi tujuan hidup Lebih baik menunda atau bahkan menolak lamaran jika hati kecil kita mengatakan tidak, daripada menghabiskan hidup tanpa rasa bahagia.

Masih ingat kisah Becky di atas bukan ? karena obsesinya untuk menikah ia

Jadi "gelap mata" dengan menjalin hubungan dengan pria yang salah.

Semua dijadikan beban

Mari kita andaikan deadline Anda telah lewat dan Anda masih

Juga melajang. Atau misalnya Anda telah menjalin hubungan dengan seorang

Pria yang baik tetapi he’s not the one, dan Anda merasa kesal karena

Merasa membuang waktu dengannya. Sebenarnya tidak ada yang sia-sia, jadikan

pengalaman itu sebagai pelajaran. Itu yang disebut dewasa.  Tidak ada

yang bisa menggantikan pengalaman hidup dari kesalahan yang pernah kita

buat, karena dari situ kita justru bisa memilih orang yang lebih baik.

Lupa bersyukur

Seringkali kita jadi kecewa dan merasa jadi orang yang paling

berbahagia dan hidupnya tidak lengkap karena masih melajang. Kita jadi lupa

kalau kita dikelilingi orang-orang yang sayang dan perhatian ;

keluarga, sahabat, teman-teman. Ibarat pepatah, karena nila setitik rusak susu

sebelangga.

Wanita yang percaya bahwa dirinya tetap manusia yang utuh tanpa

pria, tetapi juga menikmati hidup dan membaginya dengan pria telah terbukti

memiliki perasaan yang kuat dan biasanya memiliki hubungan yang sehat

dan menyenangkan dengan pasangannya.  Dan wanita-wanita dalam golongan

ini sudah merdeka dari tuntutan deadline.  Biarkan semua mengalir dengan

wajar, tak ada yang perlu dikejar. Selama kita tetap membuka diri untuk

bertemu banyak orang, seseorang yang istimewa akan datang pada saat yang

tepat."

(Unknown)

One Response to “Membebaskan Diri dari Obsesi Menikah”

  1. Hafsah Says:

    Wuah…bener banget tuh… dulu gw menerapkan terget kalo’ sdh selesai dalam umur ‘bla…bla…’ gw akan menikah. Tp ketika msk di dunia krj berubah lg.. kalo’ nyari suami yg ‘bla..bla..bla…’ banyak syaratnya. Tp stlh kul lg syaratnya nambah lg. Btw kalo’ dipikir-pikir kebanyakan persyaratan jd nggak bakal dapat menemukan Mr. Right because nobody’s perfect in this world. Bener banget kl di sekitar kita itu byk yg menyayangi, keluarga, sahabat, teman, de el el. So at this time gw berubah pikiran… menikah emang sunnah muakkad, but not the everything. Percuma aja nikah kalo’ pd akhirnya bercerai krn terlalu cepat mengambil keputusan utk menikah. Yah… kalo’ nggak mau pusing… mending jalanin aja hidup ini seperti air mengalir… let it flow… :) Trs terang gw trauma dgn ‘cerai’, pdhl belum menikah…. so I decide to enjoy my life with all of my family and my friend…. And alhamdulillah keluarga gw ngerti dgn keadaan gw saat ini knp blm mau menikah…krn gw belum siap menerima semua konsekuensinya (tkt jadi Becky….). But I hope someday Mr. Right will come to me… Jodoh kan di tangan Tuhan and semua manusia punya jodohnya masing-masing :)

Leave a Reply